travel haji umroh reguler khusus backpaker, ziarah walisongo rental bus rental mobil, ticket pesawat, tiket kereta api, guide lampung, pariwisata lampung pehawang, JL.SALEH RAJA KESUMAYUDHA NO 7a SUKARAME II TELUK BETUNG BARAT, KOTA BANDAR LAMPUNG 082122481177
Kamis, 09 Februari 2017
RUKUN IMAN
RUKUN IMAN
Pengertian Iman
Iman menurut bahasa adalah percaya atau membenarkan. Sedangkan iman menurut istilah Syar’i yaitu keyakinan dalam hati, perkataan di lisan, amalan anggota badan, bertambah dengan melakukan amalan ketaatan dan berkurang dengan melakukan kemaksiyatan.
Cabang Iman
Iman itu bercabang-cabang yang terdiri dari :
1. Cabang iman yang ada dalam hati;
ada dua macam, yaitu :
(a) perkataan hati berupa tashdiiq (pembenaran), dan
(b) perbuatan/amal hati, berupa inqiyaad (ketundukan), taslim (kepasrahan), khudluu’, kecintaan, dan yang lainnya.
Allah subhanahu wataala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,.” (QS.Al-Anfal 8:2).
2. Cabang iman yang ada dalam lisan;
seperti dzikir kepada Allah yang diantaranya adalah pengucapan kalimat tauhid yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam wilayah Islam, dan seluruh perkataan-perkataan lain yang telah ma’ruf.
3. Cabang iman yang ada dalam anggota tubuh/jawaarih; yaitu berupa amal-amal badan seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan yang lainnya.
Rukun Iman
Rukun menurut bahasa berarti pilar,asas atau dasar.sedang iman berarti keyakinan,jadi rukun iman secara bahasa berarti suatu pilar atau dasar keyakinan dalam Islam yang meliputi beberapa hal. Sedangkan menurut istilah Rukun Iman berarti meyakini dengan sepenuh hati, mengucapkan dengan lisan dan di amalkan dengan perbuatan.
Iman memiliki rukun (pilar, pokok), sebagaimana pertanyaan Malaikat Jibril as kepada Rasulullah SAW;
“Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah saw menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-Nya,
kepada Hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”
Allah Berfirman :
Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya (QS. Al Baqarah 2: 285)
Sehingga rukun iman ada enam, antara lain :
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada para Malaikat
3. Iman kepada Kitab-kitab
4. Iman kepada para Rasul
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepada Qadha‟ dan Qadar
1. Iman kepada Allah
Iman kepada Allah swt artinya meyakini bahwa Allah swt adalah Tuhan segala sesuatu, Penciptanya, Pemiliknya, dan Pengatur seluruh alam. Bahwa hanya Allah swt yang berhak untuk disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan semua yang disembah selain Allah swt adalah batil. Dan bahwa Allah swt memiliki Nama-nama yang mulia serta memiliki Sifat-sifat yang sempurna, dan suci dari segala macam kekurangan dan aib. Iman kepada Allah mencakup tiga unsur, antara lain :
Pertama: Meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wataala satu-satu-Nya pencipta alam semesta ini, menguasai, mengatur, mengurus segala sesuatu di dalamnya, memberi rizki, kuasa, menjadikan, mematikan, menghidupkan dan yang mendatangkan manfaat serta madharat. Dia berbuat segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, menghukum sesuai dengan kehendakNya, memuliakan siapa yang dikendaki-Nya dan menghinakan siapa saja yang dikendaki-Nya, ditanganNya semua kekuasaan langit dan bumi, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak butuh kepada siapapun, bagi-Nya segala urusan, di tangan-Nya semua kebaikan, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak satupun yang bisa menghalangi-Nya.
Allah berfirman:
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS.Al-Baqarah 2:21-22).
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanan-nya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS.Hud 11:6).
Kedua: Meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wataala satu-satunya yang memiliki nama-nama yang paling agung dan sifat-sifat yang paling sempurna, yang sebagiannya telah Allah jelaskan, baik dalam Al-Qur’an maupun sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS.Al-A’rof 7: 180).
Ketiga: Keyakinan hamba bahwa Allah subhanahu wataala adalah Tuhan yang haq, Dialah satu-satunya yang berhak untuk menerima semua ibadah yang lahir dan batin, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah berfirman:
“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyeru-kan: “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut-thaghut itu.” (QS.AnNahl 16:36).
“Sembahlah Allah! sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kamu selain-Nya.” (QS.Al-A’raf 7: 59).
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dengan menjalankan agama dengan lurus. ” (QS.Al-Bayyinah:5).
2. Iman kepada para Malaikat
Beriman kepada malaikat berarti meyakini bahwa Allah mempunyai Malaikat-malaikat. Allah jadikan mereka dari cahaya, diciptakan untuk senantiasa taat kepada-Nya dan tidak pernah membangkang terhadap apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka, senantiasa menger-jakan semua perintah-Nya. Malaikat itu tidak berayah, tidk beribu, dan tidak pula berjenis kelamin. Mereka diciptakan dari badan yang halus (jismil latiif), tidak mempunyai nafsu hanya amempunyai akal. Oleh karena itu mereka tidak pernah durhaka kepada Allah, sejak diciptakan sampai hari kiamat, mereka tidak mebutuhkan tempat seperti makhluk-makhluk lainnya, sebab badanya seperti cahaya, terus-menerus bertasbih kepada Allah siang dan malam. Malaikat itu jumlahnya banyak tak terhingga, tidak ada yang mengetahui jum-lah mereka, hanya Allah yang mengetahuinya. Adapun yang wajib diketahui ada sepuluh malaikat, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Raqib, Atid, Munkar, Nakir, Malik dan Ridwan.
Tugas-tugas malaikat
Malaikat mengemban berbagai tugas mulia, yang telah dibebankan Allah subhanahu wataala kepada mereka, di antara mereka:
a. Jibril AS betugas untuk menyampaikan wahyu Allah SWT kepada para Nabi dan Rasul. Allah swt berfirman:
“Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” (QS. Asy-Syu‟ara : 192 – 194).
b. Maalaikat Izrail atau Malakul Maut AS bertugas mencabut nyawa.
Allah swt berfirman;
Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikem-balikan” (QS. As-Sajdah 32: 11).
c. Malaikat Munkar dan Nakir bertugas menanyai mayit di alam kubur
Diriwayatkan dari Abu Hurairah y ia berkata, Rasulullah SAW bersabda;
“Apabila seorang mayit dikuburkan, maka akan datang kepadanya dua malai-kat hitam kebiruan. Salah satunya disebut Munkar dan yang lainnya disebut Nakir. Kedua Malaikat tersebut bertanya, “Apa yang akan engkau katakan (tentang) laki-laki ini?” mayit tersebut menjawab, “Ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak untuk di-sembah) selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Kedua Malaikat tersebut berkata, “Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau akan menjawab demikian.” Kemudian diluaskan kuburnya tujuh puluh kali tujuh puluh hasta, lalu diterangi kuburnya. Kemudian dikatakan kepadanya, “Tidurlah.” Mayit tersebut berkata, “Kembalikanlah aku kepada keluargaku, aku akan mem-beritahukan (kejadian ini kepada) mereka.” Kedua Malaikat tersebut berkata, “Tidurlah, seperti tidurnya pengantin baru.”( HR. Tirmidzi Juz 3 : 1071. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah Juz 3: 1391).
d. Malaikat Israfil AS bertugas meniup Sangkakala
Israfil AS adalah salah satu Malaikat yang mulia yang memikul „Arsy. Ia ber-tugas untuk meniup Sangkakala. Sangkakala adalah tanduk yang besar yang di-kulum oleh Israfil, ia menantikan perintah dari Allah swt untuk meniupnya. Ia akan melakukan dua kali tiupan. Tiupan pertama adalah tiupan yang mengejutkan sehingga para makhluk akan mati, kecuali yang dikehendaki oleh Allah swt.
Allah swt berfirman;
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah yang di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar 39 : 68).
e. Maalaikat Malik AS bertugas sebagai pemimpin penjaga Neraka.
Allah swt berfirman;
“(Penduduk Neraka) berseru, “Wahai Malik, biarlah Tuhan-mu membunuh kami saja.” Malik j menjawab,”Kalian akan tetap tinggal (di Neraka ini).” (QS. Zukhruf 43: 77).
f. Malaikat yang bertugas sebagai penjaga Surga ( Malaikat Ridwan)
Allah swt berfirman;
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" (QS. Az-Zummar 39: 73).
g. Malaikat yang bertugas mencatat amalan manusia (Malaikat Roqib dan Atit)
Allah swt berfirman;
“(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri” (QS. Qaaf 50: 18).
3. Beriman Dengan Kitab-Kitab Allah
Beriman kepada kitab berarti membenarkan secara mutlak bahwa Allah mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya dan kitab-kitab tersebut merupakan kalam Allah yang hakiki, ia merupakan cahaya dan petunjuk, demi tercapainya kebaha-giaan hidup dunia dan akhirat, dan sebagai pedoman hidup dan hakim antara mereka dalam masalah-masalah yang mereka perselisihkan. Semua kandungannya merupakan kebenaran, kejujuran dan keadilan yang wajib diikuti dan dilaksanakan.
Allah berfirman:
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (QS. Al Baqarah 2: 213).
Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al Hadid 57: 25).
Seorang muslim wajib beriman kepada semua kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul Allah, bahwasanya Allah telah berfirman dengan kitab itu dengan sesungguhnya, dan kitab-kitab tersebut bukanlah makhluk, barangsiapa mengingkari itu semua atau sebagiannya maka ia telah kafir.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS.An-Nisa’4:136).
Kitab-kitab yang wajib diketahui
Kitab yang diturunkan kerpada rasulnya itu banyak, tetapi hanya Allah yang mengetahui. Sedangkan yang wajib didketahui hanya 4 buah kitab, dan 100 suhuf. Kitab artinya berjilid, sedangkan suhuf artinya lembaran. Adapun kitab yang empat itu adalah ;
1. Zabur
Kitab Zabur diturunkan kepada nabi Dawud alaihis salam, dalam bahasa Qibthi.
Allah berfirman:
“ Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.” (QS. An-Nisa’4:163).
2. Taurat
Taurat adalah kitab yang diturunkan Allah kepada nabi Musa alaihis salam dalam bahasa Ibrani. Allah jadikan sebagai petunjuk dan cahaya, yang merupakan sumber hukum bagi para nabi Bani Israil.
Allah berfirman;
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi). Yang dengan Kitab tersebut diputuskan perkara orangorang Yahudi oleh Nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, karena mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah“ (QS.Al-Maidah 5:44).
3. Injil
Injil adalah kitab yang diturunkan Allah kepada nabi Isa alaihis salam dalam bahasa Suryani.
Allah berfirman :
“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat, dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat, dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orangorang yang bertaqwa.” (QS.Al-Maidah 5:46).
4. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalam (firman) Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam bahasa Arab. Dan Allah swt akan senantiasa menjaga keaslian AlQur‟an.
Allah swt berfirman;
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur‟an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut serta (menjadi) pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS.Al-Baqarah 2: 185).
Dan Allah berfiman;
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur‟an, dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya.” (QS.Al-Hijr 15: 9).
5. Suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim dan Musa.
Yaitu Suhuf (lembarang-lembaran) yang diturunkan Allah kepada nabi Ibrahim dan Musa, akan tetapi Suhuf tersebut telah hilang dan tidak diketahui sedikitpun kandungan-nya kecuali apa yang terdapat dalam AlQur’an dan sunah.
4. Beriman Kepada Rasul-Rasul
Maksud beriman kepada rasul adalah: meyakini secara pasti bahwa Allah subhanahu wataala mempunyai rasul-rasul, mereka sengaja dipilih Allah untuk menyampaikan risalah-Nya. Barangsiapa mengikuti mereka maka mendapat petunjuk dan barangsiapa yang mengingkarinya maka tersesat. Kita wajib beriman dengan semua rasul baik yang disebutkan namanya atau yang tidak disebutkan, dan setiap rasul yang datang pasti membawa berita tentang kedatangan rasul setelahnya dan rasul yang datang sesudahnya membenarkan rasul-rasul sebelumnya.
Semua nabi dan rasul mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wataala dan memberantas semua bentuk ibadah kepada selain-Nya, sekalipun berbeda syariat dan hukum-hukum mereka, akan tetapi mereka sepakat pada asas tauhid.
Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa rasul-rasul Allah berjumlah sekitar 300 sampai 319. Hal itu dikatakan oleh rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang berapa jumlah rasul. Beliau mengatakan: “ Tiga ratus lima belas banyaknya . ” (HR. Hakim).
Adapun jumlah nabi lebih banyak dari itu. Di antara mereka ada yang dikisahkan Allah kepada kita dalam AlQuran, dan di antara mereka ada yang tidak dikisahkan. Allah
Telah menyebutkan nama-nama 25 nabi dan rasul dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman:
“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. ” (QS.An-Nisa 4:164).
Adapun yang wajib diketahui ada dua puluh lima, yaitu : 1. Adam 2. Idris 3. Nuh 4. Hud 5. Luth 6. Saleh 7. Ibrahim 8. Ismail 10. Ishak 11. Yusuf 12. Ayub 13. Su’aib 14. Musa 15. Harun 16. Ilyasa 17. Dzulkifli 18. Daud 19. Sulaiman 20. Ilyas 21. Yunus 22. Zakaria 23. Yahya 24. Isa 25. Muhammad SAW.
Umat Islam tidak boleh membeda-bedakan antara para rasul dan para nabi, karena mereka itu mempunyai empat sifat wajib, yaitu :
1. Shidiq artinya benar (lurus)
2. Amanah artinya dapat dipercaya
3. Tbaligh artinya menyampaikan
4. Fathonah artinya bijaksana (pandai)
Dan manusia wajib yakin, bahwasanya para rasul dan nabi itu adalah manusia, berkela-kuan seperti manusia juga, yaitu makan, minum, tidur, bisa sakit, mati dan sebagainya. Oleh karena itu janganlah sekali-kali diangkat (diakui) sebagai anak Tuhan atau bersifat ketuhanan.
Muhammad shallalahu alaihi wasallam adalah rasul terbaik dan penutup para nabi serta imamnya orangorang yang bertaqwa, pemimpin seluruh anak cucu Adam dan imam para nabi jika mereka berkumpul, dan pembicara mereka jika dalam utusan, pemilik maqam terpuji yang diimpikan oleh orang-orang terdahulu ataupun yang akan datang, pemegang panji pujian dan pemilik telaga di surga, pemberi syafaat manusia di hari kiamat, pemilik wasilah dan keutamaan, Allah mengutusnya dengan membawa syariat dien yang paling utama, dan Dia menjadikan umatnya sebagai umat terbaik dari seluruh umat manusia, dan Allah menghimpun untuknya dan umatnya segala keutamaan dan kebaikan yang belum pernah diberikan untuk umat sebelumnya dan mereka adalah umat paling akhir penciptaannya, akan tetapi paling awal dibangkitkan.
5. Beriman Kepada Hari Akhirat
Beriman kepada hari akhirat: yakni meyakini akan berakhirnya kehidupan dunia ini dan setelah itu akan memasuki alam lain, dimulai dengan kematian dan kehidupan alam kubur untuk kemudian terjadinya hari kiamat dan selanjutnya adalah kebangkitan (dari kubur), dikumpulkan di padang mahsyar dan diputuskan ke surga atau neraka.
Allah berfirman:
“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal. ” (QS.Al-Waqi’ah 56 :49-50).
Termasuk yang wajib diimani, adalah mengimani mukaddimah-mukaddimah datangnya hari akhir ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah SAW berupa tanda-tanda hari kiamat.
Para Ulama telah membagi tanda-tanda datangnya hari kiamat ini kepada dua macam:
Pertama: Tanda-tanda kecil, yaitu yang menunjukkan dekatnya hari kiamat. Dan itu banyak sekali, sebagian besarnya telah terjadi. Diantaranya: Diutusnya Rasulullah SAW, disia-sia kannya amanah, dihiasnya masjid untuk menjadi kebanggaan, perlombaan para penggembala dalam mendirikan bangunan, memerangi Yahudi dan membunuh mereka, semakin pendeknya
waktu, kurangnya amal, munculnya berbagai fitnah, banyaknya pembunuhan, dan tersebarnya zina serta maksiat.
Kedua: Tanda-tanda besar, yaitu yang terjadi menjelang saat-saat terjadinya kiamat, dan mengingatkan mulai terjadinya. Dan ini ada sepuluh tanda, dan belum satupun yang muncul. Kesepuluh tanda itu adalah: munculnya Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Isa alaihi salam dari langit sebagai hakim yang adil lalu dia menghancurkan salib, membunuh Dajjal dan babi, menghentikan jizyah dan menghukumi dengan syariat Islam, munculnya Ya’juj dan ma’juj yang akan didoakan oleh Isa dengan kehancuran maka merekapun mati, terjadi tiga gerhana, satu di timur, satu di barat dan satu di jazirah Arab, asap yaitu: keluarnya asap besar dari langit yang menyelimuti manusia dan menutupi pandangan mereka, diangkatnya Al-Qur’an dari bumi ke langit, terbitnya matahari dari barat, munculnya binatang aneh dan berkobarnya api besar dari Adn yang menggiring manusia ke bumi Syam sebagai tanda besar yang paling terakhir.
3. Tanda-tanda Hari Kiamat
Kiamat besar tidak akan terjadi, melainkan setelah muncul beberapa tanda-tandanya. Tanda-tanda Kiamat terbagi menjadi dua; tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. Tanda-tanda kecil yaitu tanda yang mendahului Kiamat dalam kurun waktu yang lama dan merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Dan tanda kecil kiamat yang pertama adalah dengan diutusnya Rasulullah saw. Sebagaimana diriwayatkan dari Sahl ra. ia berkata, Rasulullah saw bersabda;
“(Jarak) diutusnya aku dengan Hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau memberikan isyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengahnya), lalu merenggang-kannya.” (HR. Bukhari Juz 5 : 6138, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2
Dan terdapat lebih dari lima puluh tanda-tanda kecil yang lainnya, sebagaimana yang disebutkan pada nash-nash Al-Qur‟an dan As-Sunnah.
Adapun tanda-tanda besar yaitu peristiwa yang terjadi menjelang Hari Kiamat dan merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi. Tanda besar Kiamat ada sepuluh. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bin Asid ra. ia berkata, Nabi a bersabda;
“Sesungguhnya Kiamat tidak akan pernah terjadi hingga muncul sepuluh tanda (sebelumnya); penenggelaman yang terjadi di timur, penenggelaman yang terjadi di
barat, dan (penenggelaman yang terjadi) di Jazirah Arab, asap, Dajjal, binatang bumi, Ya-juj dan Ma-juj, terbitnya matahari dari barat, api yang keluar dari jurang „Adn yang menggiring manusia, (dan yang) kesepuluh turunya Isa bin Maryam a.”
Jika tanda besar yang pertama telah nampak, maka berbagai tanda lain akan datang secara beruntun. Diriwayatkan dari „Abdullah bin „Amru ra. ia berkata, Rasulullah saw bersabda;
6. Beriman Kepada Taqdir
Iman kepada qadha dan qadar artinya meyakini bahwa semua kebaikan dan keburukan terjadi dengan ketentuan takdir Allah swt. Takdir adalah ketentuan Allah swt yang berlaku bagi setiap makhluk-Nya, sesuai dengan ilmu, dan hikmah yang dikehendaki-Nya. Beriman terhadap takdir merupakan bagian dari Rukun Iman. Dan keimanan seseorang belum sempurna, sampai ia meyakini bahwa semua yang menimpanya baik berupa kebaikan atau keburukan adalah dengan takdir Allah swt. Seorang muslim dituntut untuk mengimani takdir dengan pemahaman yang benar dan keyakinan yang kuat, yang tidak ada keraguan sedikitpun. Diriwayatkan dari Jabir bin ‟Abdillah ra. , Rasulullah saw bersabda;
“Tidak beriman seorang hamba, sampai ia beriman dengan takdir yang baik dan yang buruk, sampai ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang meleset darinya tidak akan menimpanya.” ( HR. Tirmidzi Juz 4 : 2144. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani 5 dalam Ash-Shahihah Juz 5 : 2439.)
Sesungguhnya Allah adalah pencipta segala sesuatu, pengatur dan pemiliknya, Dia telah mentaqdirkan semua ketentuan yang akan berlaku terhadap seluruh makhluk sebelum menciptakan mereka, baik berupa ajal, rezki, amalan dan akhir dari kehidupan mereka berupa kebahagiaan atau kesengsaraan, semuanya sudah tercatat di Lauh mahfudz. Segala apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan segala yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, Dia mengetahui yang telah terjadi, yang sedang dan akan terjadi, kalau seandainya terjadi Dia tahu bagaimana akan terjadi. Dia maha kuasa atas segala
sesuatu, memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dan setiap hamba memiliki keinginan dan kemampuan untuk berbuat sebagaimana yang telah ditaqdirkan Allah bagi mereka, dengan keyakinan bahwa seorang hamba
Kewajiban seorang hamba terhadap taqdir.
Seorang hamba memiliki dua kewajiban terhadap masalah taqdir:
Pertama: Memohon pertolongan Allah untuk bisa melaksanakan perbuatan yang dipe-rintahkan dan menjauhi yang dilarang, juga berdo’a agar dimudahkan serta dijauhkan dari kesulitan dan bertawakal kepada-Nya serta memohon perlindungan kepada-Nya. Dengan demikian ia memiliki ketergantungan kepada Allah dalam usahanya untuk me-lakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: yang artinya
“Berusahalah untuk sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan kamu lemah, dan jika kamu ditimpa suatu musibah maka jangan kamu berkata: kalau saja saya berbuat begitu dan begini maka pasti hasilnya akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentaqdirkannya dan apa yang Dia kehendaki pasti akan Dia lakukan. Karena sesungguhnya berandai-andai akan membuka amal setan.”
Kedua: Harus bersabar menerima apa yang telah ditaqdirkan dan tidak gelisah, serta mengetahui bahwa hal itu dari Allah supaya ia rela dan pasrah. Serta mengetahui bahwa apa yang akan menimpanya pasti terjadi, dan apa yang tidak akan menimpanya juga pasti tidak menimpanya. Sebagaimana sabda Nabi:
“Dan ketahuilah bahwa apa yang akan menimpamu pasti akan terjadi dan apa yang tidak akan menimpamu juga pasti tidak akan menimpamu.”
Melakukan sebab (ikhtiyar).
Hal-hal yang menimpa seorang hamba ada dua:
Pertama: hal yang mungkin diselesaikan (ada jalan keluarnya) maka janganlah dia lemah dalam berusaha untuk mencari penyelesaiannya.
Kedua: hal yang tidak mungkin dia cari penyelesaiannya (jalan keluarnya), maka dalam hal ini dia tidak perlu gelisah. Karena Allah subhanahu wata ’ala mengetahui seluruh musibah sebelum ia terjadi, dan ilmu Allah tentang musibah itu bukan berarti Dialah yang telah menjatuhkan hamba tersebut ke dalam musibah, akan tetapi musibah itu ter-jadi karena sebab yang menyebabkan terjadinya musibah tersebut. Kalau musibah itu menimpanya karena dia mengabaikan sebab-sebab dan faktor-faktor yang akan mem-buat dia terlindung dari musibah dan hal itu diperintahkan dalam agama, maka dialah yang bersalah karena tidak berusaha mewujudkan sebab-sebab yang akan melindungi-nya dari musibah tersebut. Adapun musibah yang dia sendiri tidak sanggup mengatasi-nya maka dia bisa ditolerir.
Mengusahakan sebab tidak berlawanan dengan taqdir dan tawakal bahkan ia termasuk dalam bagiannya. Akan tetapi jika taqdir telah terjadi, maka dia wajib ridha dan ber-serah diri kepada , serta kembali kepada perkataan: “Allah telah mentaqdirkan, Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.”
Sebab-sebab yang dapat menolak taqdir.
Allah subhanahu wata’ala menjadikan beberapa hal yang mampu menolak terjadinya taqdir dan mengangkatnya, yaitu berupa do’a, sadaqah, obat-obatan, kehati-hatian dan tekad, karena hakikat semuanya itu adalah qadha’ dan taqdir Allah hingga kepandiran dan kepintaran.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar